Kilas Balik Politik Tanah Air di 2021

Kilas Balik Politik Tanah Air di 2021 Kredit Foto: Antara/REUTERS/Vasily Fedosenko

Hari ini (31/12/2021) menjadi hari berakhirnya tahun politik 2021 sehubungan dengan datangnya tahun baru pada besok (1/1/2022). Sepanjang tahun 2021, cukup banyak momen politik yang terjadi yang cukup disorot oleh masyarakat. Sebelum berakhirnya tahun ini, ada baiknya bila kita menengok ke belakang momen-momen tersebut sebagai sarana refleksi untuk menyongsong 2022.

Bicara kondisi sosial dan politik di Indonesia sepanjang 2021, maka kita tidak bisa lepas dari kondisi pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak awal 2020 lalu. 2021 Masih menjadi tahun yang berat bagi masyarakat Indonesia akibat dampak pandemi yang begitu besar terhadap sendi-sendi kehidupan, khususnya di bidang finansial.

Semua tahu, bayang-bayang Covid-19 yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat faktanya juga mempengaruhi perpolitikan Tanah Air. Bukan tidak mungkin, segala yang terjadi pada 2021 ini juga tentu tetap akan berpengaruh terhadap jalannya 2022 nanti, terlebih di ranah politik yang banyak berbicara soal rekam jejak.

Hal serupa pasalnya juga terjadi pada saat kita memasuki awal tahun 2021 beberapa waktu lalu. Sejumlah peristiwa yang terjadi sebelumnya di 2020 cukup berpengaruh terhadap jalannya tahun ini. Sebutlah salah satunya adalah terkait Front Pembela Islam (FPI) yang dibubarkan oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada akhir 2020 lalu.

Bubarnya FPI cukup menarik perhatian besar dari berbagai kalangan, khususnya kalangan umat Islam yang bersimpati terhadap ormas besutan Habib Rizieq Shihab tersebut. Jokowi yang menjadikan FPI layaknya PKI dahulu, menjadi organisasi terlarang cukup membuat sebagian besar simpatisannya mengamuk. Pasalnya, sudah menjadi rahasia umum bahwa FPI merupakan salah satu ormas Islam berkekuatan besar yang bahkan mampu menjatuhkan seorang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Namun 2021 ini justru menjadi tahun kejatuhan besar bagi FPI maupun Rizieq. Selain FPI kini sudah dilarang beredar dan beraktivitas lagi, para pentolannya pun satu persatu dibasmi oleh pemerintah, mulai dari Munarman hingga sang Imam Besar sendiri, Rizieq Shihab. Tak ada yang menyangka bahwa FPI yang pada tahun-tahun sebelumnya begitu berpengaruh kini dilenyapkan begitu saja dalam waktu singkat.

Adapun salah satu tokoh simpatisan Rizieq, yakni Bahar bin Smith yang kontroversial dibebaskan dari masa hukumannya pada tahun ini. Hanya saja, dirinya kembali membuat gempar lantaran langsung terlibat polemik dengan KSAD Jenderal Dudung Abdurachman. Dirinya kini kembali terancam penjara lantaran kasusnya yang disebut mengandung ujaran kebencian dan SARA tersebut dibawa ke jalur hukum.

Baca Juga: Eng-Ing-Eng... Bekas Bos BUMN Blak-blakan Soal Pembubaran FPI, Ternyata Gara-Gara...

Berganti ke peristiwa lainnya, tahun 2021 juga menjadi salah satu tahun yang pelik bagi sejumlah partai politik, salah satunya adalah Partai Demokrat. Pada Februari lalu, Demokrat mengalami perseteruan dalam tubuh internalnya lantaran pihak sang pimpinan sah, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) diusik oleh rencana kudeta yang dilancarkan oleh Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko bersama komplotannya yang tergabung dalam KLB Deli Serdang.

Saat itu, AHY yang secara kedaulatan partai sudah diangkat menjadi Ketua Umum menggantikan sang ayah, eks-Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ditentang oleh pihak KLB Deli Serdang yang sepakat bahwa Moeldoko yang seharusnya menjadi Ketua Umum. Saat itu, Moeldoko pun memperoleh julukan buruk dari banyak pihak, khususnya yang pro terhadap AHY, sebagai seorang 'begal partai'.

Polemik ini nyatanya tak hanya melibatkan internal Demokrat saja, namun sampai kepada Presiden Jokowi. Seperti diketahui, Jokowi, bersama dengan Menko Polhukam Mahfud MD saat itu dikabarkan begitu murka terhadap Moeldoko yang mengganggu kedaulatan Partai Demokrat. Polemik ini bahkan sampai dibawah ke meja persidangan dan cukup melalui persengketaan yang pelik.

Pada akhirnya, pihak Moeldoko tetap kalah dan AHY berhasil mempertahankan kursi kepemimpinannya di Partai yang lambangnya mirip dengan logo mobil Mercedes Benz tersebut. Manis bagi AHY, namun cukup pahit bagi Moeldoko karena setelahnya, namanya terlanjur tercoreng dengan julukan 'begal partai', pengkhianat, dan semacamnya.

Polemik internal partai politik pada 2021 tak hanya terjadi dalam tubuh Partai Demokrat saja, hal serupa juga terjadi terhadap PDIP. Adapun polemik yang terjadi dalam tubuh PDIP memiliki kaitan dengan pencapresan. Diketahui, perbincangan soal Pilpres 2024 mendatang sudah mulai panas sejak tahun ini.

Seperti diketahui, salah satu kader PDIP yang kini menjabat Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo muncul sebagai salah satu sosok yang memiliki tingkat elektabilitas tertinggi dalam sejumlah survei bursa capres 2024. Hal ini memunculkan banyak dukungan terhadapnya untuk maju pada Pilpres 2024, mengingat dirinya disebut sebagai sosok yang paling potensial menjadi suksesor Jokowi.

Namun di saat yang sama, muncul pula nama kader PDIP lainnya yang kini menjabat Ketua DPR RI, yakni Puan Maharani. Serupa, Puan juga cukup banyak didukung penuh, khususnya dari pihak elit PDIP untuk maju sebagai Capres pada 2024. Puan digadang-gadang sebagai sosok yang akan menjadi ganjalan bagi Ganjar mengingat dirinya adalah putri dari Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri yang juga keturunan langsung dari Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno.

Akan tetapi, fakta di lapangan justru berbicara berbeda. Secara politik akar rumput, nama Ganjar jauh lebih unggul di atas Puan sehingga Ganjar disebut sebagai sosok capres pilihan rakyat, banyak pengamat yang mengatakan hal senada pula. Namun, pihak elit PDIP disebut lebih cenderung mendukung Puan yang dinilai sebagai sosok yang lebih direstui Mega.

Munculnya persaingan antara Ganjar dan Puan tersebut memunculkan persengketaan yang cukup panas. Sejumlah kelompok di PDIP yang terindikasi sebagai pihak yang cenderung mendukung Ganjar dikabarkan sempat membelot dengan mengumandakan deklarasi dukungan lebih dulu. Hal ini membuat murka para elit PDIP karena dinilai tak mematuhi tradisi PDIP yang taat terhadap keputusan Mega dalam pengusungan capres.

Bahkan, Mega sendiri dikabarkan turut murka dengan munculnya para pembelot tersebut. Polemik ini kemudian dikenal sebagai polemik 'Banteng Vs Celeng', berasal dari julukan para elit PDIP yang disematkan pada para pembelot pendukung Ganjar tersebut, yakni celeng. Banteng di sini sendiri merujuk kepada para kader PDIP yang masih setia dengan arahan Mega.

Adapun polemik tersebut hingga kini belum tuntas meskipun tensinya sudah mereda. Kabar terakhir kali menyebutkan bahwa Mega sampai saat ini masih berkontemplasi dalam memilih sosok capres perwakilan PDIP, entah Puan, Ganjar, ataupun kader PDIP lainnya yang mampu menjadi kejutan. 

Baca Juga: PDIP Jangan Kaget ya , Ini Respons Ganjar Saat Digoda Pindah Partai, Nggak Nyangka, yakin Nih Mas Ganjar?

Menyoal Pilpres, 2021 menjadi tahun ajang adu baliho tokoh-tokoh politik yang dianggap ingin maju sebagai Capres pada 2024 nanti. Sepanjang 2021, bermacam baliho bertebaran di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari baliho Puan Maharani, Airlangga Hartarto, Giring Ganesha, Muhaimin Iskandar, dan sebagainya. 

2021 juga menjadi puncak melemahnya pihak oposisi pemerintah yang sejak 2019 lalu memang sudah melemah, mengingat banyak eks-oposisi Jokowi pada periode pemerintahan sebelumnya berubah haluan menjadi koalisi, salah satu yang menghebohkan adalah Prabowo Subianto dan Gerindra yang sebelumnya merupakan oposisi Jokowi pada periode pemerintahan 2014-2019. 

Pada 2019, partai besar yang merupakan oposisi yang tersisa hanyalah PKS, Partai Demokrat, dan PAN. Namun beberapa waktu lalu, PAN pada akhirnya pun mengikuti jejak Gerindra untuk berubah haluan menjadi koalisi pemerintah. Selain itu, DPR RI yang sebelumnya diketuai oleh utusan dari partai oposisi, yakni PKS dan Gerindra, kini dipimpin oleh pihak dari PDIP yang merupakan partai yang menaungi Jokowi, yakni Puan Maharani. 

Hal ini dinilai banyak pihak sebagai momen dimana pihak oposisi semakin melemah lantaran pihak koalisi justru semakin gemuk. Parlemen kini juga mayoritas diisi oleh kader-kader dari partai koalisi, sehingga suara oposisi semakin tidak terdengar.

2021 juga menjadi tahun yang cukup pelik bagi sejumlah lembaga kenegaraan, salah satunya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pasalnya, tahun ini terjadi peristiwa pemecatan sejumlah pegawai KPK, termasuk Novel Baswedan lantaran tak lulus Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Hal ini cukup membuat ribut masyarakat lantaran lembaga antirasuah tersebut dinilai dilemahkan karena diintervensi oleh pemerintah. Seperti diketahui, sebelumnya KPK adalah lembaga independen yang bergerak tanpa campur tangan pihak lain.

Tak hanya KPK, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sempat memperoleh momen tak sedap lantaran sosok yang memiliki kaitan dengan mereka menjadi tersangka keterlibatan dengan terorisme. Sosok tersebut adalah anggota Komisi Fatwa MUI Pusat Ahmad Zain An-Najah yang diduga terlibat dengan dengan jaringan teroris Jamaah Islamiyah (JI).

Hal tersebut sempat menuai polemik dari berbagai pihak yang mana puncaknya adalah munculnya tagar yang menuntut agar MUI dibubarkan di media sosial. Polemik tersebut juga kemudian menghadirkan dua belah kubu yang terpecah, yakni yang mendukung agar MUI dibubarkan dan yang menolak agar MUI dipertahankan.

Selanjutnya, nama Polri juga sempat tercoreng lantaran sejumlah kasus berat yang tak berhasil diatasi oleh mereka, salah satunya adalah kasus pemerkosaan. Banyak masyarakat yang mengutarakan ketidakpercayaan mereka terhadap kinerja kepolisian Indonesia tersebut yang dianggap tidak becus. Belum lagi sejumlah kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian semakin menambah rasa tidak percaya masyarakat dan mencoreng nama Polri.

Akan tetapi, beberapa dari lembaga kenegaraan tersebut juga sempat mengukir sejumlah prestasi di tahun 2021 ini. Sebutlah KPK, meskipun tengah dihujani kritik karena memecat Novel Baswedan Cs, mereka faktanya berhasil meringkus ratusan tersangka korupsi yang mana dinilai sebagai peningkatan kinerja dalam membasmi tindak pidana korupsi di Indonesia.

Sementara itu, Polri juga turut mengukir prestasi lewat satuan anti-terorisme mereka, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror yang berhasil membasmi sejumlah gembong teroris besar di Indonesia. Sebut saja Ali Kalora yang berhasil dihabisi oleh mereka beberapa bulan lalu setelah sekian lama sang gembong teroris berbahaya itu menjadi salah satu yang paling dicari. 

Tahun 2021 juga menjadi tahun bersinarnya dua prajurit terbaik TNI, yakni Jenderal Andika Perkasa yang diangkat menjadi Panglima TNI yang baru menggantikan Panglima sebelumnya, Marsekal Hadi Tjahjanto, serta Jenderal Dudung Abdurachman yang diangkat menjadi KSAD menggantikan Andika.

Keduanya merupakan prajurit favorit karena sepak terjang mereka yang dinilai banyak pihak cukup cemerlang. Andika merupakan salah satu prajurit angkatan darat terbaik yang memiliki prospek bagus untuk memajukan TNI. Sementara Dudung merupakan sosok prajurit tegas yang berperan penting dalam membasmi FPI yang selama ini disegani meskipun sering menimbulkan kegaduhan. 

Masih cukup banyak hal lain yang terjadi dalam dunia perpolitikan Indonesia sepanjang tahun 2021. Sebut saja hijrahnya Sukmawati Soekarnoputri memeluk agama Hindu yang cukup menggemparkan banyak pihak, polemik antara Giring Ganesha dengan Anies Baswedan, lahirnya berbagai partai politik baru, dan banyak lagi.

Yang jelas, segala peristiwa politik yang terjadi pada tahun ini tentu saja akan berpengaruh terhadap apa yang akan terjadi pada tahun 2022 dan tahun-tahun mendatang, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun selayaknya, kita semua selalu bertumpu kepada harapan agar di tahun 2022 dan tahun-tahun selanjutnya, politik di Indonesia semakin membaik dan bebas dari polarisasi berlebih, politik kotor, dan sebagainya demi Indonesia yang lebih baik.

Akhir kata, selamat menyambut tahun baru 2022 untuk politik Indonesia yang lebih baik! Semoga para pemain politik negeri ini mampu memainkan percaturan politik dengan lebih baik lagi di masa depan dan memetik seluruh pelajaran penting dari segala hal yang terjadi di 2021.

Baca Juga: Kinerja 2021, Pak Jokowi Jangan Cepat Puas ya...

Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini